SEJARAH Filsafat
Filsafat muncul di Yunani semenjak
kira-kira abad 7 SM. Filsafat muncul di Yunani karena di Yunani tidak ada kasta
pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas, tidak seperti di daerah
yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (israel) atau Mesir.
Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirakan dan berdiskusi akan
keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan
diri kepada mitos atau dongeng-dongeng lagi untuk mencari jawaban atas
petanyaan-pertanyaan ini.
Setelah pada abad ke-6 SM muncul
sejumlah ahli pikir yang menentang adanya mitos. Keadaan yang demikian ini
sebagai suatu demitologi, yang berarti suatu kebangkitan pemikiran untuk
menggunakan akal pikiran dan meninggalkan hal-hal yang sifatnya mitologi.
Timbullah peristiwa ajaib The Greek
Miracle, yang nantinya dapat dijadikan sebagai landasan peradaban dunia.
Beberapa faktor yang menjadikan
filsafat yunani lahir:
a. Kaya
akan mitos (dongeng), seperti syair Homerus, Orpheus, dan lain-lain.
b. Karya
Hormeus mempunyai kedudukan yang sangat penting untuk pedoman hidup orang-orang
Yunani.
c. Pengaruh
ilmu pengetahuan yang berasal dari Babylonia di lembah sungai nil.
YUNANI
KUNO
Periode Yunani kuno ini biasa
disebut sebagai periode filsafat alam. Karena pada periode ini ditandai dengan
munculnya para ahli fikir alam. Para pemikir filsafat Yunani yang pertama
berasal dari miletos, sebuah kota perantauan Yunani yang terletak di pesisir
Asia kecil.
1. Thales
Thales
adalah salah satu dari tujuh orang bijaksana ( Seven Wise Men of Greece ). Aristoteles memberi gelar The Father of Philosophy, juga menjadi
penasihat teknis ke-12 kota lonia. Salah satu jasanya yang besar adalah meramal
gerhana matahari pada tahun 585 SM.
Menurut
pendapatnya semua yang berasal dari air sebagai materi dasar kosmis. Dari
pendapat itu dapat di artikan bahwa apa yang disebut sebagai arche (asas pertama dari alam semesta)
adalah air. thales, semua berasal dari air dan semua akan kembali menjadi air,
dan bahwa buni terletak di atas air dan merupakan bahan yang muncul dari air
yang terapung di atasnya.
2. Anaximandros
Ia
merupakan orang pertama yang membuat peta bumi.
Pemikirannya,
dalam memberikan pendapat tentang arche (asas
pertama alam semesta), ia tidak menunjuk pada salah satu unsur yang dapat diamati
oleh indra, tetapi ia menunjuk dan memilih pada sesuatu yang tidak dapat
diamati indera yaitu apeironi yang
tak terbatas.
3. Phytagoras
Polykrates
yang bersifat tirani. Dilahirkan di pulau Samos, lonia. Pindah ke kota Kroton,
italia selatan karena tidak setuju dengan pemerintahan.
Pemikirannya,
substansi dari semua benda adalah bilangan, dan gejala alam merupakan
pengungkapan indrawi dan perbandingan-perbandingan matematis, angka 1-10
memiliki kekuatan dan arti sendiri.
Phytagoras
lah yang mengatakan pertama kali bahwa alam semesta itu merupakan satu
keseluruhan yang teratur. Keharmonisan dapat tercapai dengan menggabungkan
hal-hal yang berlawanan, seperti:
-
Terbatas, tak terbatas - ganji, genap
-
Satu, banyak -
Laki-laki, Perempuan
-
Diam, Gerak - Lurus,
Bengkok
-
Baik, Buruk - Baik,
Buruk
-
Terang, Gelap - Kanan,
Kiri
4. Xenophanes
Ia
lebih tepat dikatakan penyairdari pda ahli fikir (filosof), hanya karena ia
mempunyai nalar yang kritis dan mempelajari pemikiran-pemikiran filsafat pada
saat itu.
Pendapatnya
yang termuat dalam kritik terhadap Homerus dan Horodetus, ia membantah adanya
antropomorfisme tuhan-tuhan (seakan Tuhan manusia). Kritik ini ditujukan kepada
anggapan-angapan lama yang berdasar pada mitologi.
5. Heraclitos
Lahir
di Ephesus dan mendapat julukan si gelap karena untuk menelusuri gerak
pikirannya sangat sulit.
Pemikiran
filsafatnya terkenal dengan filsafat menjadi. Ucapannya yang terkenal: Panta rhei kai uden menci, artinya
segala sesuatunya mengalir bagaikan arus sungai dan tidak satu orang pun dapat
masuk ke sungai yang sama dua kali. Alasannya, karena air sungai yang pertama
telah mengalir, berganti dengan air yang berada di belakangnya.
Menurut
pendapatnya, di dalam arche terkandung
sesuatu yang hidup (seperti roh) yang disebutnya sebagai logos (akal atau semacam wahyu).
6. Parmenides
Lahir
di kota Elea dan dialah yang pertama kali memikirkan tentang hakikat tentang
ada (being).
Menurut
pendapatnya, apa yang disebut sebagai realitas adalah bukan gerak dan perubahan
melainkan yang ada (being) itu ada.
Yang ada tidak dapat hilang atau menjadi ada, dan yang tidak ada tidak mungkin
muncul menjadi ada, yang tidak ada adalah tidak ada, sehingga tidak dapat
dipikirkan. Yang dapat dipikirkan hanyalah yang ada saja, yang tidak ada tidak
dapat dipikirkan
Jadi,
yang ada (being) itu satu, umum,
tetap, dan tidak dapat dibagi-bagi karena membagi yang ada akan menimbulkan
atau melahirkan banyak yang ada, dan itu tidak mungkin.
7. Zeno
Lahir di Elea dan murid Parmenides.
Menurut Aristoteles, Zeno-lah yang menemukan dialektika, yaitu suatu
argumentasi yang bertitik tolak dari suatu pengandaian atau hipotesis, dan dari
hipotesis tersebut ditarik kesimpulan.
Sebagai contoh dalam mengemukakan
hipotesis terhadap melawan gerak adalah sebagai berikut:
a. Anak
panah yang dilepaskan dari busurnya sebagai hal yang tidak bergerak karena pada
setiap saat anak panah tersebut terhenti di suatu tempat tertentu.
b. Achiles
si jago lari yang termasyhur dalam mitologi Yunani tidak dapat menang melawan
kura-kura, karena kura-kura berangkat sebelum Achiles, sehingga Achiles lebih
dahulu harus melewati atau mencapai titik dimana kura-kura berada saat dia
berangkat.
8. Democritus
Lahir
di kota Abdera di pesisir Thrake di Yunani Utara. Dari kary-karyanya dia telah
mewariskan sebanyak 70 karangan tentang bermacam-macam masalah, seperti
kosmologi, matematika, astronomi, logika, etika, teknik, music, puisi, dll.
Pemikirannya,
bahwa realitas bukanlah satu, tetapi terdiri dari banyak unsure dan jumlahnya
tak terhingga. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian materi yang sangat kecil
yang disebut atom.
Menurut
pendapatnya, atom-atom itu selalu bergerak, berarti harus ada ruang kosong.
Maka, Democritus berpendapat bahwa realitas itu ada dua, yaitu atom itu sendiri
(yang penuh) dan ruang tempat atom bergerak (yang kosong).
YUNANI
KLASIK
Yunani klasik diawali oleh Sofisme.
Sofisme berasal dari kata sophos yang berarti cerdik, pandai. Keahliannya dalam
bidang politik, bahasa, retorika, dan terutama tentang kosmos.
Antara
kaum Sofis dan Socrates mempunyai hubungan yang erat sekali. Mereka itu hidup
sdalam satu zaman. Pokok permasalahan pemikiran mereka juga sama, yaitu
manusia. Perbedaan antara kaum sofis dengan Socrates adalah bahwa pemikiran
filsafat Socrates sebagai suatu reaksi dan kritik terhadap pemikiran kaum
Sofis.
Terdapat
3 faktor yang mendorong timbulnya kaum sofis, yaitu:
a. Perkembangan
secara pesat kota Athena dalam bidang politik dan ekonomi.
b. Kota
Athena sebagai pusat politik sehingga peranan pendidikan sangat penting untuk
mendidik kaum muda.
c. Terbukanya
masyarakat Yunani terhadap budaya luar akan membuat orang-orang Yunani menjadi
dinamis dan berkembang.
1. Gorgias
(salah satu sofisme)
Pendapatnya,
yang penting adalah bagaimana dapat meyakinkan orang lain agar menerima
pendapat kita.
Pemikirannya
yang penting yaitu:
a. Mencari
keterangan tentang asal-usul yang ada.
b. Bagaimana
peran manusia sebagai makhluk yang mempunyai kehendak berfikir.
c. Norma
yang sifatnya umum tidak ada, yang ada norma yang individualistis
(subjektivisme).
d. Bahwa
kebenaran tidak dapat diketahui sehingga ia termasuk penganut Skeptisisme.
Aspek
positif dari Sofisme adalah mempengaruhi kebudayaan Yunani, yaitu suatu
revolusi intelektual, dan mengangkat manusia sebagai objek pemikiran filsafat.
2. Socrates
Adalah
anak seorang pemahat Sohroniscos, dan ibunya bernama Phairnarete, yang
pekerjaannya seorang bidan. Istrinya bernama Xantipe, yang dikenal galak dan
keras.
Pemikiran
filsafatnya untuk menyelidiki manusia secara keseluruhan. Yaitu dengan
menghargai nilai-nilai jasmaniah dan rohaniah yang keduanya tidak dapat
dipisahkan karena dengan keterkaitan kedua hal tersebut banyak nilai yang
dihasilkan.
Setiap
mengajarkan pengetahuannya Socrates tidak memungut bayaran kepada
murid-muridnya. Maka ia kemudian oleh kaum sofis sendiri dituduh memberikan
ajaran barunya, merusak moral para pemuda, dan menentang kepercayaan Negara.
Kemudian ia ditangkap dan akhirnya dihukum mati dengan minum racun pada umur 70
tahun yaitu pada tahun 399SM.
3. Plato
Lahir
di Athena dengan nama asli Aristocles. Ia belajar filsafat dari Socrates,
Pythagoras, Heracleitos, dan Elia.
Sebagai
titik tolak pemikiran filsafatnya, ia mencoba menyelesaikan permasalahan lama
antara Heracletos; yang benar yang berubah-ubah, Parmenidas; yang benar yang
tetap. Pengetahuan yang diperoleh lewat indra disebutnya pengetahuan indra,
pengetahuan yang diperoleh lewat akal disebut pengetahuan akal.
Plato
menerangkan bahwa manusia sesungguhnya berada dalam dua dunia, yaitu dunia
pengalaman yang bersifat tidak tetap, serta dunia ide yang bersifat tetap. Dunia yang
sesungguhnya atau realitas itu adalah dunia ide.
Plato
mengemukakan bahwa terdapat beberapa masalah bagi manusia yang tidak pantas
apabila tidak mengetahuinya. Masalah tersebut adalah sebagai berikut:
a. Manusia
mempunyai Tuhan sebagai penciptanya.
b. Tuhan
mengetahui segala sesuatu yang diperbuat manusia.
c. Tuhan
hanya dapat diketahui dengan cara negatif, tidak ada ayah, anak, dll.
d. Tuhanlah
yang menjadikan alam ini dari tidak mempunyai peraturan menjadi mempunyai
peraturan.
Puncak
pemikiran filsafat Plato adalah tentang negara, yang tertera dalam Polites dan
Nomoi. Sedangkan konsep Plato tentang etika sama seperti Socrates, yaitu tujuan
hidup manusia adalah hidup yang baik (eudaimonia
atau well-being).
Menurut
Plato, didalam negara yang ideal terdapat tiga golongan berikut:
a. Golongan
yang tertinggi (para penjaga, para filsuf)
b. Golongan
pembantu (prajurit, yang bertugas untuk menjaga keamanan negara)
c. Golongan
rakyat biasa (petani, pedagang, tukang)
Tugas
negarawan adalah menciptakan keselarasan antara semua keahlian dalam negara
(polis) sehingga mewujudkan keseluruhan yang harmonis. Apabila suatu negara
telah mempunyai undang-undang dasar, bentuk pemerintahan yang paling tepat
adalah monarki. Sementara apabila suatu negara belum mempunyai undang-undang
dasar maka bentuk pemerintahan yang
tepat adalah demokrasi. Konsep tata negara ini tertera dalam politea (tata negara).
4. Aristoteles
Lahir
di Stageira Yunani Utara pada tahun 384 SM. Karya-karya Aristoteles berjumlah
delapan pokok bahasan, yaitu:
a. Logika,
terdiri dari :
-
Categoriac
(kategori-kategori)
-
De
interpretation (perihal penafsiran)
-
Analytica
Priora (Analitika logika yang lebih dahulu)
-
Analytica
Posteriora (Analitika logika yang kemudian)
-
Topica
-
De
sophistics elenchis (tentang cara berargumentasi
kaum sofis)
b. Filsafat
alam, terdiri dari:
-
Phisica
-
De caelo (perihal langit)
-
De generatione et corruption (tentang timbul-hilangnya makhluk-makhluk
jasmani)
-
Meteorologica (ajaran tentang badan-badan jagad raya)
c.
Psikologi, terdiri dari :
-
De
anima (perihal jiwa)
-
Parva naturalia (karangan-karangan kecil tentang pokok-pokok
alamiah)
d.
Biologi,
terdiri dari :
-
De partibus animalium (perihal bagian-bagian binatang)
-
De mutu animalium (perihal gerak binatang)
-
De incessu animalium (tentang binatang yang berjalan)
-
De generatione animalium (perihal kejadian binatang-binatang)
e.
Metafisika,
oleh Aristoteles dinamakan sebagai filsafat pertama atau theologica.
f.
Etika,
terdiri dari :
-
Ethica Nicomachea
-
Magna moralia (karangan besar tentang moral)
-
Ethica Eudemia
g. Politik dan ekonomi, terdiri dari :
-
Politics
-
Economics
h. Retorika dan poetika, terdiri dari :
-
Rhetorica
-
Poetica
MASA KEKOSONGAN
1. Filsafat Hellenisme
Sepeninggal Aristoteles terjadi
kekosongan selama lima abad, sehingga tidak ada ahli fikir yang menghasikan
buah pemikiran filsafatnya layaknya Plato dan Aristoteles. Kekosongan itu
sendiri di isi oleh aliran-aliran seperti: Epikurisme, Stoaisme, Skeptisisme,
dan Neoplatonisme. Menurut sejarah filsafat, masa ini (sesudah Aristoteles)
disebut Hellenisme. Filsafat Hellenisme ini dimulai pada pemerintahan Alexander
Agung (356 – 23 SM) atau Iskandar Zulkarnain raja Macedonia.
a. Epicurisme
Tokohnya adalah Epicurus (341 – 271
SM), lahir di Samos dan mendapatkan pendidikan di Athena.
Ajarannya, bagaimana manusia bahagia
dalam hidupnya. Epicurus mengemukakan bahwa agar manusia mendapat kebahagiaan
harus memperoleh ketenangan jiwa terlebih dahulu. Terdapat 3 ketakutan dalam
diri manusia seperti berikut:
-
Manusia takut terhadap kemarahan dewa.
-
Manusia takut terhadap kematian.
-
Manusia takut terhadap nasib.
b. Stoaisme
Tokohnya adalah Zeno (366 – 264 SM)
yang berasal dari Citium, Cyprus. Pokok ajarannya adalah bagaimana manusia
dalam hidupnya dapat bahagia. Untuk mencapai kebahagiaan tersebut manusia harus
harmoni terhadap dunia (alam) dan harmoni dengan dirinya sendiri.
c. Skeptisisme
Tokoh skeptisisme adalah Pyrrhe (360
– 270 SM). Ajarannya, bagaimana cara manusia agar dapat hidup berbahagia. Hal
ini menengarai bahwa sebagian besar manusia itu hidupnya tidak bahagia,
sehingga manusia sukar mencapai kebijaksanaan.
ABAD PERTENGAHAN
Pada abad pertengahan peradaban
Yunani jatuh ketangan kekuasaan Romawi. Didalam masa inilah mulai berkembang
kembali filsafat dan filosof-filosof setelah kurang lebih 5 abad belum
memunculkan ahli fikir (filosof). Filsafat barat abad pertengahan (476 – 1492
M) juga dapat dikatakan “abad gelap”. Ciri-ciri pemikiran filsafat abad
pertengahan adalah:
-
Cara berfilsafatnya dipimpin oleh gereja
-
Berfilsafatnya didalam lingkungan ajaran Aristoteles
-
Berfilsafat dengan pertolongan Agustinus dan lain-lain.
Masa abad pertengahan ini terbagi
menjadi dua masa yaitu masa Patristik dan masa Skolastik. Masa Skolastik
terbagi menjadi Skolastik Awal, Skolastik Puncak, dan Skolastik Akhir.
1. Masa Patristik
Istilah patristic berasal dari kata
latin pater atau bapak, yang artinya
pemimpin gereja. Pada masa ini muncul upaya untuk membela agama Kristen, yaitu
apologis (pembela iman Kristen) dengan kesadarannya membela iman kristen dan
serangan filsafat Yunani. Para pembela iman Kristen tersebut adalah Justinus
Martir, Irenaeus, Klemens, Origenes, Gregorius, Nissa, Tertullianus, Diosios
Arepagos, Au-relius Augustinus.
a. Justinus Martir
Menurut pendapatnya, agama Kristen
bukan agama baru karena Kristen lebih tua dari filsafat Yunani, dan Nabi Musa
dianggap sebagai awal kedatangan Kristen. Karena, Musa hidup sebelum Socrates
dan Plato.
Orang-orang Yunani terpengaruh oleh
demon atau setan. Demon atau setan dapat mengubah pengetahuan yang benar
kemudian dipalsukan. Jadi, agama Kristen lebih bermutu disbanding dengan
filsafat Yunani. Demikian pembelaan Justinus Martir.
b. Klemens (150 – 215)
Pokok-pokok pemikirannya adalah
sebagai berikut:
-
Memberkan batasan-batasan terhadap ajaran Kristen untuk
mempertahankan diri otoritas filsafat Yunani.
-
Memerangi ajaran yang anti terhadap Kristen dengan
menggunakan filsafat Yunani.
-
Bagi orang Kristen, filsafat dapat dipakai untuk membela
iman Kristen, dan memikirkan secara mendalam.
c. Tertullianus (160 – 215)
Pemikirannya, bahwa wahyu tuhan
sudah cukup. Tidak ada hubungan antara Yerussalem (pusat agama) dengan Yunani
(pusat filsafat). Ia mengatakan bahwa disbanding dengan cahaya Kristen, segala
yang dikatakan filosof Yunani dianggap tida penting. Akan tetapi lama kelamaan,
Tertullianus akhirnya menerima juga filsafat sebagai cara berfikir yang
rasional.
d. Augustinus (354 – 430)
Ia diakui keberhasilannya dalam
membentuk filsafat Kristen yang berpengaruh besar dalam filsafat abad
pertengahan sehingga ia dijuluki sebagai guru skolastika yang sejati.
Ajaran Agustinus berhasil menguasai
sepuluh abad, dan mempengaruhi pemikiran eropa. Itu dikarenakan ajarannya lebih
bersifat sebagai metode dari pada suatu system sehingga ajarannya mampu meresap
hingga masa skolastik.
2. Masa Skolastik
Istilah Skolastik adalah kata sifat
yang berasal dari kata school, yang berarti sekolah. Jadi, skolastik berarti
aliran atau yang berkaitan dengan sekolah. Terdapat beberapa pengertian dari
corak khas skolastik, sebagai berikut:
a. Filsafat yang mempunyai corak
semata-mata agama.
b. Filsafat yang mengabdi pada teologi
atau filsafat yang rasional.
c. Suatu sstem yang termasuk jajaran
pengetahuan alam kodrat.
d. Filsafat Nasrani karena banyak
dipengaruhi oleh jajaran gereja.
Filsafat Skolastik ini dapat berkembang
dan tumbuh karena beberapa faktor berikut:
a. Faktor Religius
b. Faktor Ilmu Pengetahuan
Masa Skolastik terbagi menjadi tiga
periode, yaitu:
a. Skolastik Awal (800 – 1200)
Skolastik Awal merupakan zaman baru
bagi bangsa eropa. Hal ini ditandai dengan skolastik yang didalamnya banyak
diupayakan pengembangan ilmu pengetahuan di sekolah-sekolah. Kurikulum
pengajarannya meliputi studi duniawi atau artes liberales, meliputi tata
bahasa, retorika, dialektika (seni berdiskusi), ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu perbintangan,
dan musik.
Diantara tokoh-tokohnya adalah
Aquinas (735 – 805), Johannes Scotes Eriugena (815 – 870), Peter Lombard (1100
– 1160), John Salisbury (1115 – 1180), Peter Abaelardus (1079 – 1180).
b. Skolastik Puncak (1200 – 1300)
Masa ini merupakan kejayaan
skolastik yang berlangsung singkat dan masa ini juga yang disebut masa
berbunga. Berikut ini beberapa faktor mengapa masa skolastik mencapai
puncaknya.
-
Adanya pengaruh dari Aristoteles, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina
sejak abad ke-12.
-
Tahun 1200 didirikan Universitas Almamater di Perancis.
-
Berdirinya ordo-ordo. Banyaknya perhatian orang terhadap
ilmu pengetahuan. Tokoh-tokohnya memegang peran di bidang filsafat dan teologi.
Albertus
Magnus : ia juga dikenal sebagai sendekiawan abad
pertengahan. Di Universitas Padua ia belajar artes liberals, belajar
teologi do Boulogna, dan masuk ordo Dominican tahun 1223.
Thomas
Aquinas : karya Thomas telah menandai taraf yang tinggi
dari aliran Skolastisme pada abad pertengahan. Thomas menyadari bahwa tidak
dapat menghilangkan unsure Aristoteles. Masuknya unsure Aristoteles ini
didorong oleh kebijakan pimpinan gereja Paus Urbanus V (1366).
c. Skolastik Akhir (1300 – 1450)
Masa ini ditandai dengan adanya rasa
jemu terhadap segala macam pemikiran filsafat yang menjadi kiblatnya sehingga
memperlihatkan stagnasi (berhenti). Diantara tokoh-tokohnya adalah William
ocham, Nicolaus Cusasus.
William
Ocham : menurut
pendapatnya, pikiran manusia hanya dapat mengetahui barang-barang atau
kejadian-kejadian individual. Ia membantah anggapan skolastik bahwa logika
dapat membuktikan doktrin teologis. Hal ini akan membawa kesulitan dirinya yang
pada waktu itu sebagai penguasanya Paus John XXII.
Nicolas
cusasus :
ia sebagai tokoh pemikir yang berada paling akhir masa skolastik. Menurut
pendapatnya terdapat tiga cara untuk mengenal yaitu lewat indera, akal, dan
intuisi. Pemikiran Nicolas ini sebagai upaya mempersatukan seluruh pemikiran
abad pertengahan yang dibuat ke suatu sintersis yang lebih luas.
3. Masa Peralihan
Pada masa peralihan diisi dengan
gerakan kerohanian yang bersifat pembaharuan. Masa peralihan ini ditandai
dengan munculnya renaissance, humanisme, dan reformasi yang berlangsung antara
abad ke-14 hingga ke-16.
a. Renaissance
Atau kelahiran kembali di Eropa ini
merupakan suatu gelombang kebudayaan dan pemikiran yang dimulai di italia.
Diantara tokoh-tokohnya adalah Leonardo da Vinci, Michelangelo, Machiavelli,
dan Giordan Bruno.
b. Humanisme
Humanisme menjadi gerakan untuk
kembali melepaskan ikatan dari gereja dan berusaha menemukan kembali sastra
Yunani atau Romawi. Diatara para tokohnya adalah Boccaccio, Petrarcus, Lorenco
Vallia, Eramus, dan Thomas Morre.
c. Reformasi
Reformasi merupakan revolusi
keagamaan di Eropa Barat pada abad ke-16. Para tokohnya antara lain Jean Calvin
dan Martin Luther.
FILSAFAT MODERN
Zaman modern dimulai sejak adanya
krisis zaman pertengahan selama dua abad (14 – 15), yang dia tandai dengan
munculnya gerakan Renaissance yang memberkan banyak aspek realitas.
Bermula dari William Ockham yang
mengetengah kan via moderna (jalan
modern) dan via antique (jalan kuno).
Akibatnya, manusia didewa-dewakan dan manusia tidak lagi memusatkan pikirannya
kepada Tuhan dan surga.
Dalam era filsafat modern, muncullah
berbagai aliran pemikiran seperti Rasionalisme, Empirisme, Idealisme,
Positivisme, Evolisionis, Materialisme, Neo-Kantisanisme, Pragmatisme, Filsafat
Hidup, Fenomologi, Eksistensisalisme, dan Neo-Thomisme.
1. Rasionalisme
Dipelopori oleh Rene Descartes, yang
disebut sebagai bapak filsafat modern. Yang harus dipandang sebagai hal yang
besar adalah apa yang jelas dan terpilah (clear
and distinctively). Latar belakang munculnya rasionalisme adalah keinginan
untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional (skolastik)
2. Empirisme
Tokoh-tokohnya adalah Thomas Hobbes,
John Locke, dan David Hume, yang beranggapan bahwa pengetahuan yang bermanfaat,
pasti dan benar hanya diperoleh lewat indera (pemimpi) dan empirilah
satu-satunya sumber pengetahuan. Pemikiran tersebut lahir dengan nama
empirisme.
3. Kritisisme
Aliran ini muncul abad ke-18 dan
zaman baru ini disebut zaman pencerahan (Aufklarung).
Sebagai latar belakangnya, manusia melihat adanya kemajuan ilmu pengetahuan
(ilmu psikologi, biologi, filsafat, dan sejarah) telah mencapai hasil yang
menggembirakan.
Isaac Newton memberika dasar-dasar
yang berfikir dengan induksi, yaitu pemikiran yang bertitik tolak pada
gejala-gejala dan mengembalikan kepada dasar-dasar yang sifatnya umum.
Seorang filusuf jerman Imanuel
Kant mencoba mengikuti rasionalisme, tetapi kemudian terpengaruh oleh
empirisme (hume). Pemikirannya, semua
pengetahuan bersumber pada akal (rasionalisme) tetapi adanya pengertian timbul
dari benda (empirisme). Ibarat burung terbang harus mempunyai sayap (rasio) dan
udara (empiri). Jadi metode berpikirnya disebut metode kritis. Walaupun ia
mendasarkan diri pada nilai yang tinggi dari akal, tetapi ia tidak mengingkari
adanya persoalan-persoalan yang melampaui akal.
Kant merasa puas tentang ilmu
pengetahuan yang dibatasi secara kritis. Artinya, gerak yang menimbulkan tesis,
kemudian menimbulkan anti tesis (gerak bertentangan), kemudian timbul sintesis
yang merupakan tesis baru, yang nantinya menimbulkan antithesis dan seterusnya.
Inilah yang disebut sebagai dialektika.
No comments:
Post a Comment